Mahasiswa Apatis???

Mahasiswa adalah agent of change (agen perubahan). Oleh karena itu, mahasiswa dituntut untuk selalu aktif dan bersuara. Namun pada kenyataannya, hanya segelintir mahasiswa yang aktif dalam organisasi kampus ataupun kelembagaan lainnya.
APATIS : ‘tidak peduli’ (bahasa Inggris, “apathy” berasal dari kata Yunani “a-pathos”, harfiah : tanpa perasaan). Maka, orang yang apatis adalah orang yang tidak peduli urusan orang lain, tidak peduli lingkungan dan apa yang terjadi disekitarnya. Sikap apatis, hopeless, putus asa, putus harapan, adalah bagian yang wajar dari diri kita sebagai manusia, tidak ada yang salah, normal saja. Tetapi apabila terus menerus memelihara sikap tersebut adalah salah besar.
Mungkin kita semua sering mendengar jargon klasik “Janganlah bermimpi terlalu tinggi, kalau tidak tercapai nanti jatuhnya sakit. Jangan panjat pohon tinggi-tinggi, nanti kalau jatuh lebih sakit.” Yeah..that’s right. Tetapi, kalau tidak bermimpi sama sekali, ya tidak ada tujuan yang tercapai. Yasudah tidak usah sekolah, kan sudah ada yang lulus sekolah. Tidak usah kuliah, kan sarjana sudah banyak. Mengikuti ujian sekolah resikonya jelas ada dua, yaitu lulus dan tidak lulus. Ada harapan di sana. Tetapi kalau tidak ikut ujian sekolah, resikonya sudah jelas cuma satu : tidak lulus sekolah.

Banyak alasan mengapa mahasiswa menjadi apatis, pertama hedonisme (gaya hidup berhura-hura yang hanya mementingkan kesenangan dan kenikmatan duniawi) secara perlahan merasuki kaum muda-mudi, tak terkecuali mahasiswa. Mahasiswa kini tak bisa lagi secara universal disebut kaum intelektual atau pembawa perubahan. Hedonisme telah merubah banyak diantara mereka dari kutu buku menjadi pencinta club malam, narkoba atau miras. Pergeseran perilaku ini tak bisa dilepaskan dari pengaruh arus globalisasi sehingga cenderung sangat sulit dibendung.

Organisasi seharusnya mampu memberikan kesibukan kepada mereka sehingga tak ada waktu untuk terjebak pada perilaku menyimpang ini. Gelarlah kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial seperti baksos atau kegiatan yang kompetitif seperti lomba menulis dan sebagainya. Buatlah kegiatan yang tak dapat diperoleh di bangku kuliah agar mengacu mahasiswa untuk berpikir kreatif, inovatif, dan cerdas. Kegiatan-kegiatan tersebut nantinya tidak hanya akan bermanfaat bagi diri mahasiswa sendiri, tapi juga bagi lingkungan di sekitarnya.

Kedua, munculnya tanggapan miris di kalangan mahasiswa sendiri bahwa organisasi menghambat prestasi akademik. Banyak yang enggan berorganisasi lantaran melihat rekannya yang berorganisasi mengalami penurunan dalam prestasi akademik, sehingga muncul anggapan bahwa organisasi menghambat mahasiswa dalam menyelesaikan studinya. Padahal, sejumlah organisasi kemahasiswaan telah menetapkan indeks prestasi akademik tertentu atau jumlah SKS yang harus dilulusi sebagai prasyarat menjadi pengurus. Ini yang perlu ditegakkan lagi.

Ketiga, ada persepsi publik yang terbangun saat ini bahwa pengurus lembaga kemahasiswaan hanya memiliki bakat demonstrasi. Image ini muncul dari sejumlah pemberitaan media massa bahwa umumnya aksi demonstrasi menyusahkan masyarakat misalnya pemblokiran jalan dan sebagainya. Apalagi jika demonstrasi yang digelar berakhir bentrok.

Seharusnya kita tetap optimis, tetap penuh harapan, suatu saat akan ada perubahan ke arah yang lebih baik. Memang betul, kenyataan belum tentu sesuai harapan.Tapi yang pasti kalau kita terus menerus putus asa, apatis, keadaan tidak akan berubah menjadi lebih baik.

Sistem Proteksi Reaktor

Sistem keselamatan yang dipergunakan pada Reaktor Kartini berdasar pada prinsip defense in depth yaitu:

  1. Lapisan pertahanan dasar
  2. Lapisan pencegahan gangguan
  3. Lapisan pembatasan akibat gangguan [Read more...]

UU NO 10 TAHUN 1997 TENTANG KETENAGANUKLIRAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 10 TAHUN 1997

TENTANG

KETENAGANUKLIRAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, [Read more...]

OLED

OLED
Dilansir melalui EFY Times, Senin (18/5/2009), Panasonic dan Sumitomo Chemical dikabarkan sedang bekerja sama untuk memproduksi layar TV OLED berukuran 40 inci. layar tersebut akan mulai diproduksi pada tahun 2010 dan diharapkan akan menghasilkan layar TV dengan harga yang cukup murah. Tidak hanya itu, layar OLED besutan Panasonic ini juga dikabarkan cukup hemat energi, hanya mengonsumsi tenaga sekira 40 watt dan dapat dipasarkan pada tahun 2015. Tetapi pada bulan April-Juni 2010, riset Display Search.Ltd menemukan, televisi OLED meraih pertumbuhan volume penjualan global terendah dibandingkan para pesaingnya pada kuartal kedua. Oleh karena itu, kita harus mengetahui apa itu OLED? [Read more...]

Pergaulan Anak Berbakat

Anak berbakat seringkali lebih suka bergaul dengan anak-anak yang lebih tua dari segi usia, khususnya mereka yang memiliki keunggulan dalam bidang yang diminati. Misalnya saja ada anak kelas II Sekolah Dasar yang sangat suka bermain catur dengan orang-orang dewasa, karena jika ia bermain dengan teman sebayanya rasanya kurang berimbang. Dalam hal ini para orang tua dan guru harus memakluminya dan membiarkannya sejauh itu tidak merugikan perkembangan yang lain. [Read more...]

DETEKSI DINI TERHADAP ANAK-ANAK BERBAKAT

Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan antara lain bahwa “warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus” (Pasal 5, ayat 4). Di samping itu juga dikatakan bahwa “setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya” (pasal 12, ayat 1b). Hal ini pasti merupakan berita yan gmenggembirakan bagi warga negara yang memiliki bakat khusus dan tingkat kecerdasan yang istimewa untuk mendapat pelayanan pendidikan sebaik-baiknya.

Banyak referensi menyebutkan bahwa di dunia ini sekitar 10 – 15% anak berbakat dalam pengertian memiliki kecerdasan atau kelebihan yang luar biasa jika dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Kelebihan-kelebihan [Read more...]

NANOGENERATOR

Di dunia ini, segala sesuatu pasti membutuhkan sumber energy untuk menggunakan sesuatu, misalnya : mesin akan bekerja jika ada bahan bakar, alat elektronik akan menyala jika ada sumber listrik dan sebagainya. Oleh karena itu, perangkat yang dibuat dalam skala nano tidak akan bekerja sebagai sensor bila tidak ada sumber energy, yaitu baterai. Karena tidak ada baterai berskala nano yang dapat dipasang di nanodevice, para peneliti telah mengembangkan daya kreasinya dengan mengambil energy tersebut dari lingkungan mereka. Sebuah studi baru yang dipublikasikan menggambarkan nanogenerator dapat mengubah energy kinetic menjadi energy listrik. [Read more...]